Sabtu, 28 Maret 2009

KARENA AKU MENCINTAIMU

KARENA AKU MENCINTAMU


Saudaraku, mencintaimu adalah sebuah pilihan—kalau bukan keharusan. Namun tidak mencintaimu adalah sebuah pengingkaran atas sunnah Rosulullah, sang teladan. Untuk itu ijinkanlah aku mencintaimu atas nama iman.

Saudaraku, mencintai—kepada siapapun—pastilah berbuntut konsekuensi. Cintanya sang hamba kepada Robbul ‘izzati dibuktikan dengan ibadahnya sehari-hari. Cintanya sang suami kepada istri dibuktikan dengan menafkahi. Cintanya Ulul amri kepada rakyatnya dibuktikan dengan mengayomi. Begitu pula cintaku kepadamu tidak sekedar basa basi.

Namun tak usah kecewa saudaraku, sebab cintaku hanya kubuktikan dengan tulisan. Ya, tulisan. Sebab dengan tulisan—apapun bisa kukatakan. Kau berbuat salah—aku bisa mengingatkan. Kau berbuat benar—aku bisa mengiyakan. Kau berbuat dosa—aku bisa memberi teguran. Bahkan bila kau tak berbuat apa apa—aku bisa memicu stimultan.

Ya, aku tak ingin orang yang kucintai terjerembab di lubang kesesatan. Aku tak ingin orang yang kucintai jauh dari kebenaran. Aku tak ingin orang yang kucintai kehilangan pegangan. Yang selalu kuinginkan adalah—orang yang kucintai selalu istiqomah dalam iman.

Saudaraku, aku berharap kau mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu. Begitu pula aku telah berusaha mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku. Namun aku perlu pembuktian semua itu.

Maka tegurlah, saat aku berbuat salah. Hiburlah, saat hatiku gundah; serta berilah masukan saat diriku banyak masalah. Semoga—sampai kapanpun—kita masih dalam lingkaran ukhuwah. Aku pun berharap, persaudaraan kita menuai berkah.


Valentine. Di bulan Februari ini, kata itulah yang barangkali paling banyak menghiasi media. Kaum muda pun penuh suka cita menyambutnya. Dari sekedar menyiapkan coklat atau bunga, hingga merencanakan acara pesta. Hari itu dianggap sebagai saat yang tepat untuk mengungkapkan cinta.

Namun Saudaraku, tahukah engkau bahwa dogma valentine sebagai hari kasih sayang adalah palsu? Ini jelas, sebab dalam agama kita tak ada tuntunan, dalil, atau aturan tentang hal itu. Valentine hanyalah hari kasih sayang semu. Bahkan lebih tepat disebut sebagai hari ajang pemuas nafsu.

Tak pernahkah kau sadari bahwa Valentine hanyalah jebakan setan? Lihat saja apa yang dilakukan muda mudi saat mereka merayakan. Tak perlu kuceritakan, sebab kuyakin kau pernah menyaksikan. Lalu cobalah kau perhatikan—mereka akan terjebak dalam berbagai kesesatan. Ya, dari sebuah perayaan—kemudian berbuntut dosa-dosa dan kemaksiatan. Bahkan tidak jarang, di antara mereka terjerumus ke dalam aktivitas perzinaan.

Kalau sudah begini, wanitalah yang menjadi korban. Lihat saja nanti—setelah sekian bulan—berapa banyak wanita yang ‘kebobolan’ setelah melakukan perbuatan yang dikharamkan, lalu dihadapkan pada dua pilihan: menikah dengan terpaksa—atau menggugurkan kandungan. Hhh…. tak ada yang didapatkan kecuali dosa dan penyesalan.

Dibalik semua itu ternyata ada yang tertawa. Ya, keuntungan finansial yang didapatkan dari ritual valentine jumlahnya luar biasa. Hitung saja berapa pemasukan hasil penjualan berbagai pernak-pernik, jasa, media, dan berbagai keperluan pesta dari jutaan manusia di sejumlah negara. Tidak hanya itu, hancurnya moral umat Islam, adalah berkah bagi mereka. Lemahnya umat islam menjadi kekuatan bagi mereka untuk bertindak semena-mena.

Saudaraku, valentine bukan sekedar urusan muamalah. Namun ini sudah masuk ke dalam ranah aqidah, sebab asal muasal valentine adalah dari ritual kabbalah—yang mungkin tidak disadari akibat penistaan sejarah.

Saudaraku, Rasulullah telah mengingatkan kepada kita agar jangan mengikuti perbuatan orang-orang kafir—jika tidak ingin dimasukkan ke dalam golongan mereka. Untuk itu, tak perlu kau mengikuti orang-orang disekitarmu yang merayakannya. Islam adalah agama kasih sayang—tak terbatas pada waktu, tak terkhusus pada siapa.

Saudaraku, pesan ini kusampaikan Karena aku mencintaimu.